Kaliandra Merah Mulai Dibudidayakan oleh Warga Pangkalan Batang Barat

Bengkalis (Nadariau.com) – Warga di Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, kini mulai membudiyakan tanaman kaliandra merah secara mandiri.

Penanaman bibit kaliandra merah di perkebunan karet dan pekarangan rumah itu, dilakukan warga setelah mengetahui banyak manfaat yang bisa didapat dari tanaman kaliandra merah tersebut.

Berbagai manfaat dari kaliandra merah itu sebelumnya disampaikan oleh Sekjen DPP Asosiasi Petani Kaliandra Riau (Aspekari), saat memberikan sosialisasi kepada warga yang dipusatkan di aula Kantor Desa Pangkalan Batang Barat diakhir 2019 lalu.

Menurut Ketua DPD Aspekari Bengkalis Abu Mansur, penanaman kaliandra merah oleh warga merupak langkah yang sangat tepat sebagai alternatif untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru mengingat ketergantungan masyarakat terhadap karet dan sawit sangat tinggi sedang harga komoditas tersbut elalu rendah.

Dikatakannya, secara umum, sela-sela kebun karet milik masyarakat di Bengkalis belum dioptimalkan dengan tanaman sela, sehingga cenderung tumbuh gulma dan tidak memiliki nilai tambah bagi petani.

“Untuk itu, saya merekomendasikan kepada masyarakat untuk membudidayakan kaliandra merah, imbuhnya, Senin (3/8/2020).

Abu Mansur menyampaikan jika pihaknya akan memberikan penjelasan kepada warga terkait potensi dari kaliandra merah.

“Saya berharap semua masyarakat desa di Kabupaten Bengkalis ini, bukan hanya warga Desa Pangkalan Batang Barat bersama-sama membudidayakan tanaman ini. Apalagi jika melihat potensi ternak dan potensi madu dari nextar bunga kaliandra. Agar bengkalis mampu menjadi icon ternak dan madu serta masyarakatnya lebih sejahtera,” imbuhnya.

“Dengan budidaya kaliandra merah ini, nantinya kita bisa mendapat manfaat dari nextar bunganya sebagai pakan lebah madu. Sehingga masyarakat bisa beternak lebah karena sumber pakan lebah telah tersedia,” ulasnya.

Kepada Pemerihrah Kabupaten Bengkalis, Abu Mansur berharap agar turun tangan membantu masyarakat minimal untuk membeli bibit ini.

Bahkan setelah nanti pakan cukup tersedia, agar pihak pemda dapat membantu membangunkan kandang ternak berikut pengelolaan biogasnya sehingga bisa menjadi sumber pendapatan bagi peternak.

Hal senada disampaikan oleh sekjen Aspekari Riau, Mujiono, SE. Upaya budidaya Kaliandra Merah sangat tepat dalam rangka mewujudkan desa mandiri pangan dan energi dengan memanfaatkan sela-sela tanaman perkebunan serta di pekarangan rumah maupun lahan-lahan tidur masyarakat.

“Sehingga kami merekomendasikan kepada masyarakat agar membudidayakan kaliandra merah sebagai opsi untuk menambah sumber pendapatan. Ketika harga komoditas perkebunan seperti karet dan kelapa sawit jatuh, setidaknya masyarakat masih memiliki tambahan pendapatan lain yaitu dari kaliandra merah ini,” ujarnya.

Kaliandra merah merupakan energi hijau ramah lingkungan, dengan budidaya ini desa akan memiliki cadangan energi. Karena batang kaliandra merupakan bahan baku pembuatan wood pellet sebagai energi alternatif pengganti batu bara.

Disamping itu juga, dengan budidaya kaliandra merah secara bersama sama, masyarakat juga memperoleh manfaat daun sebagai tambahan sumber pakan ternak. Bahkan daun kaliandra merah bisa diolah menjadi pelet hijau untuk pakan ikan maupun unggas.

Dengan tersedianya pakan yang cukup, peternak akan bisa mengandangkan ternak pada satu tempat sehingga kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi biogas.

Bahkan, limbah biogas ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai sumber pupuk untuk tanaman padi maupun tanaman pangan lainnya. (rls/dan)