Rabu, Maret 4, 2026
BerandaHeadlineSituasi Teluk Arab Memanas, Ketegangan Hampir Meletus Menjadi Konflik

Situasi Teluk Arab Memanas, Ketegangan Hampir Meletus Menjadi Konflik

Iran (Nadariau.com) – Situasi di Teluk Arab memanas. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengirim peringatan kepada Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). IRGC mengatakan mereka tidak akan menghindar dari tantangan kekuatan Angkatan Laut AS di Teluk Arab.

“Hari ini kami mengumumkan bahwa dimana pun orang Amerika berada, kami berada di sana disamping Anda, dan dalam waktu dekat Anda akan semakin merasakan (kehadiran) kami,” kata Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Alireza Tangsiri di sela-sela upacara peluncuran sejumlah speedboat militer baru dan telah mengalami pembaruan di Teluk Persia, kantor berita Tasnim yang dikutip Bloomberg, Kamis (28/5/2020).

Belum diketahui apakah semua kapal yang ditunjukkan pada upacara itu baru atau berapa banyak yang telah dipugar. Pada Maret 2016, IRGC menerima sejumlah kapal kelas Ashoura dan Zulfaghar – model yang sama yang diluncurkan ini – dari Kementerian Pertahanan.

Diberitakan, menurut Tangsiri, IRGC juga membuat kapal baru yang akan dinamai Jenderal Qassem Soleimani, yang dibunuh dalam serangan udara AS di Irak pada Januari.

Beberapa waktu lalu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan angkatan laut untuk menghancurkan kapal Iran yang melecehkan kapal AS. Perintah itu dikeluarkan setelah kapal IRGC dengan berbahaya mendekati kapal militer Amerika dalam apa yang dikatakan Komando Pusat AS sebagai perairan internasional.

Ketegangan antara Iran dan AS telah meningkat setelah Washington keluar dari kesepakatan nuklir multi pihak 2015 yang bertujuan untuk meremajakan ekonomi Iran dan memperbaharui sanksi atas ekspor minyak negara itu. Ketegangan hampir meletus menjadi konflik langsung setelah Soleimani dibunuh.

Pemerintahan Trump mengatakan ingin Iran menyetujui kesepakatan yang lebih keras pada program nuklir Teheran, dan untuk menghentikan dukungan bagi kelompok proksinya di Timur Tengah, termasuk melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah. Namun Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi sampai AS kembali ke kesepakatan semula.

Dalam langkah terakhirnya, AS pada hari Rabu mengakhiri keringanan sanksi yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Rusia, China dan Eropa untuk bekerja di situs nuklir sipil Iran.

“Republik Islam Iran tidak akan mundur atau membungkuk di hadapan musuh,” tegas Jenderal Hossein Salami, komandan IRGC, dalam pidato yang disiarkan di TV pemerintah.

“Pertahanan adalah logika kita dalam perang, tetapi pertahanan itu tidak berarti kepasifan. Operasi dan taktik kami menyinggung dan kami telah menunjukkan ini di lapangan,” sebutnya. (sindonews/nrc)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer