Berita Kapal di Selat Panjang Tahun 1970-an

“Prai sekolah besok kita ke Padang, nak berobat mata emak mike…!” kata ayah pada suatu hari pada hampir 40 tahun yang lalu.

Mak…mak, kabar dari ayah kami segera membuat gempar seisi rumah, dan segera pula menjadi viral di kalangan sanak famili.

Maklumlah, untuk ukuran tahun 70-an bagi masyarakat di kampung kami di Selatpanjang yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti, berlayar dan mengunjungi daerah yang jauh, adalah sesuatu banget! Maka demam nak berangkat ke Padang, membuat adrenalin naik sampai ke ubun-ubun.

Sejak permakluman itu, setiap sore saya mengajak teman saya, Asoi – seorang blasteran Tionghoa dan Suku Akit – berboncengan naik sepeda mini merek Chopper ke Pelabuhan Bete (singkatan dari Bea Tjukai) untuk melihat Berita Kapal.

Naik sepeda mini beramai-ramai sambil meliuk-meliuk di jalanan pada saat itu adalah kegembiraan yang tak ter peri.

Kampung kami di Selatpanjang – sekarang Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti – pada masa itu adalah sebuah kota pelabuhan yang sangat ramai. Kapal-kapal dari negeri yang jauh banyak berdatangan dan lego jangkar di Selat Air Hitam, yang saat itu menjadi bak jalan Tol Laut tempat melintas bahtera dan perahu jung yang datang dari ujung dunia.

(Kalau sekarang narasi tentangTol Laut itu cuma jualan politik waktu Pemilu saja)

Saya masih ingat beberapa nama kapal asing itu seperti MV Hinomaru – Kobe, MV Centurion – Panama, MV. An Hui – Khaosiung.

Kapal-kapal besar yang datang dari Jepang, Taiwan, Panama, Korea dan Filipina dengan bendera aneka warna, berlabuh berjejer untuk memuat kayu log alias kayu balak, ribuan kubik dari hutan-hutan tropis yang masih perawan di serata pulau di bumi Meranti. Sebut saja dari hulu sungai Suir dan sungai Sodor sampai di Pulau Tiga dekat Kuala Kampar.

Kayu log alias balak dari kampung kami itu diangkut ke Jepang dan Taiwan untuk di olah menjadi Plywood alias Kayu Lapis dan produk turunannya di negeri2 itu.

Konon, dari sana di kirim lagi ke Amerika dan Eropa, untuk membangun properti dan menara pencakar langit di sana.

Di kemudian hari sempat kenal dengan seorang ekspatriat tua asal Taiwan, Mr Hung Ming Chia yang expert di dunia perkayuan. Menurut beliau kayu log dari Selatpanjang merupakan kayu grade terbaik, disamping kayu dari Sandakan, Sabah. Sehingga dalam kelas kualitas kayu, dikenal istilah Grade Selatpanjang.

Amboi, kampung kami Selatpanjang itu memang keren!

Pun, selain kapal-kapal luar negeri yang rata2 merupakan kapal besi, tidak kurang kapal-kapal kayu berukuran besar yang mengangkut sagu basah ke Tanah Jawa, seperti Cirebon dan Semarang. Dan di sela-sela muatan tersebut juga di bawa puluhan sepeda merk Raleigh asli buatan England untuk diperdagangkan di Pulau Jawa.

Kapal kargo barang ke Jawa ini juga merupakan moda transportasi favorit bagi masyarakat Selatpanjang bahkan kota lain di serantau Riau untuk bepergian ke Pulau Jawa saat itu. Entah untuk kepentingan mudik bagi etnis Jawa, dan yang legendaris adalah untuk melanjutkan Pendidikan.

Konon Ongah Tabrani Rab, ketika akan melanjutkan Pendidikan Kedokteran di Pulau Jawa, pun berangkat dengan menumpang kapal kayu pengangkut sagu dari Selatpanjang. Dan untuk diketahui orang tua beliau, Abdurrab adalah Wedana di Selatpanjang era tahun 60-an yang akrab disapa Camat Rab.

Bahkan Sultan Syarief Qasyim II jika hendak berlayar ke Singapura, dari Siak mampir dulu di Selatpanjang untuk menunggu kapal ke Singapura. Untuk itu beliau selalu singgah dan menginap di kediaman Tengku Abdul Hamid Assegaf, Penghulu Selatpanjang tempo dulu.

Oleh-oleh khas dari Jawa itu adalah kecap manis, teh tubruk dan kerupuk udang Sidoarjo. Kecap manis  yang terkenal itu adalah kecap Tjap Bango, kecap nya di kemas per 2 botol dalam besek yang terbuat dari anyaman bambu.

Kapal-kapal kayu yang berlayar ke luar negeri, seperti Singapura, juga tidak kalah meriah nya mengangkut pelbagai kayu olahan. Kayu Ramin, Suntai, Pulai Miang konon adalah jenis kayu olahan favorit di Negeri Singa kala itu. Kapal kayu besar seperti KM. Polar, KM Sri Sakti itu sillouite masih terbayang jelas di pelupuk mata.

Karena nya, apparel brand kelas dunia seperti celana jeans Levis, Lee dan Amco; kemeja Montagut, sepatu sport merk Adidas, Puma, Nike dan Lotto yang genuine dari Amrik pun hal yang lazim bagi kami.

Tak usah cerita tentang barang elektronika.

Rindu sekali dengan kampung kami itu.

Di sepanjang area Pelabuhan Bete – sepertinya singkatan BT alias Bea Tjukai dalam ejaan lama, sekarang disebut Pelabuhan Camat – sampai Pelabuhan Polisi, selalu ramai dengan calon penumpang kapal antar pulau yang datang untuk melihat Berita Kapal.

Entah itu kapal tujuan ke Bengkalis, Pekanbaru Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, Guntung bahkan sampai Penyalai.

Berita Kapal itu adalah informasi tentang keberangkatan kapal penumpang yang di tulis pada papan tulis dengan menggunakan kapur.. Dan entah kenapa, dalam diksi yang dipakai di pelabuhan saat itu, penumpang disebut Pesisir. Sehingga jangan heran, jika mendengar keluhan Agen Kapal, “Ah…pesisirnya sedikit!”.

Biasanya di papan Berita Kapal itu ditulis,

KM. Sinar Jaya, Tujuan Bengkalis – Bandul – Kudap – Ketam Putih, berangkat Hari Selasa jam 10.00

…..

KM. Laba-Laba, Tujuan Tanjung Pinang – Tanjung Batu – Moro, berangkat Hari Kamis jam 9.00

….

KM Safari, Tujuan Pekanbaru berangkat Hari Senin jam 14.00

KM. Sabar, Tujuan Tanjung Balai Karimun Hari Selasa jam 10.00. Turun dari Pelabuhan Primkopal

….

KM Pulau Cawan, Tujuan Pulau Burung – Guntung – Penyalai berangkat setiap Hari Selasa jam 10.00.

Sampai waktunya kami sekeluarga nak berangkat ke Padang, saya tak jadi ikut karena harus mewakili sekolah untuk Cerdas Tangkas. Dan sekolah kami SD Negeri I Teladan adalah juara bertahan.

Sahabat saya Maulinda Thomas Nhora dan Iwan Kamaludin Noor adalah teman satu Tim dari SDN I Teladan, sedang rekan saya Subkhan Riza dari SDN 9 di Rintis, Sapril Magas dari SDN 4 di Pai Boon serta Om Edi Sofyan dari SDN 12 juga di Pai Boon, Vina Nasir dari SDN 5 Tanah Lot, plus Wisandi Chen dan tetangga saya Jasmin Pue Thia dari SDK Kalam Kudus, tidak pernah bisa mengalahkan kami.

Engah Norham Abdul Wahab, bang Kazzaini Ks  Om Jagdev Singh dan tante Onie Noni Hasanah ada menyimak?

Kak Rita Zanjani dan adinda Falzan Surahman mudah2an sehat.

Teman masa kecil saya, Asoi, entah dimana di sekarang. Konon udah jadi boss besar di Batam.

Sudah dulu karena nak ngajak istri cari sarapan di luar.

Tabik datuk anak cucu numpang nulis.

Penulis: @NazNasir