74 Penerima Beasiswa Bidik Misi UIR Ikuti Pembinaan di Bukittinggi

Bukittinggi (Nadariau.com) – Pemerintah khususnya Kemenristekdikti dan memiliki komitmen besar dalam meningkatkan sumberdaya manusia.

Pemerintah tidak saja memberi fasilitas belajar kepada anak negeri tetapi juga memberi bantuan pembiayaan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan Universitas Islam Riau Dr Ir H Asrol dalam sambutannya pada Pembinaan Mutu Akademik Mahasiswa Penerima Bidikmisi Bhakti Negeri Pemerintah Provinsi Riau Tahun 2018 di Bukittinggi, Senin-Selasa (20-21/10 2019). Pembinaan diikuti 74 peserta.

Hadir Wakil Rektor III Rosyadi, Kepala BAU&P Zakir Has, Kepala BAAK Akmar Efendi, Kepala Biro Keuangan Azwirman, Kepala dan Sekretaris BPPA Thamrin S dan Fahridar Hasibuan, Kepala dan Sekretaris LDIK Zulhelmy Hatta dan Anton Afrizal Chandra, Kepala dan Sekretaris BHE Ardiansyah dan Wira Atma Hajri, Kabag Humas dan Protokoler Syafriadi beserta Staff, Kabag Tata Usaha BAUP Tati Maharani.

Sama dengan Pemerintah (Pusat), Pemerintah Provinsi Riau, kata Asrol, juga memiliki komitmen yang sama dalam peningkatan SDM. Ini dibuktikan dengan diluncurkannya program beasiswa bidikmisi bhakti negeri kepada mahasiswa.

Beasiswa ini diberikan kepada para mahasiswa yang belajar di Riau. Universitas Islam Riau cukup besar mendapat alokasi bidikmisi.

Asrol menjelaskan, tujuan akhir dari pemberian beasiawa adalah softskill dan karakter, yakni bagaimana penerima bidikmisi memiliki karakter yang baik dalam memikul visi dan misi pembangunan.

Di luar softskill mereka juga diharapkan mempunyai pengetahuan serta keterampilan. Ketiganya, menurut Asrol, hendaknya dapat dimiliki dan dikembangkan oleh penerima bidikmisi untuk memajukan Indonesia.

Dalam kaitannya dengan bidikmisi, Asrol menegaskan perlu dilakukan pembinaan akademik. Akademik seorang penerima bidikmisi tak semata dilihat dari nilai yang mereka peroleh pada studi melainkan dipandang pula dari aspek moral.

”Jangan sampai penerima bidikmisi hanya memiliki indeks prestasi komulatif yang bagus tetapi moral dan etikanya sangat rendah,” ungkap Asrol.

Disamping itu dia harus berintegritas tinggi. Asrol menjelaskan, softkill, pengetahuan dan integritas harus menyatu dalam diri seorang penerima bidikmisi.

”Apa guna memiliki softskill dan akhlak yang baik, pengetahuan yang luas kalau semua yang dipunyainya ia didedikasikan dengan bekerja di luar negeri,” tegas Asrol.

Ia berharap, penerima beasiswa memanfaatkan pembinaan ini untuk bekal menjadi entrepreneurs yang kreatif, berpengetahuan dan berintegritas.

Ketua Panitia Pembinaan Akmar Efendi, kegiatan yang berlangsung setiap tahun anggaran ini bertujuan memberi pembinaan kepada peserta dalam bidang akademis, keagamaan dan entrepreneurship.

”Diharapkan usai menerima pembinaan, penerima bidik misi semakin terbuka dan bertambah pengetahuannya untuk belajar lebih tekun, memiliki pengetahuan yang luas dan punya keinginan kuat berwirausaha.

”Biaya kuliah mereka sampai tamat sudah ditanggung Pemerintah melalui bidik misi. Termasuk belanja bulanan. Jadi beban akademis finansial mereka berbeda dengan mahasiswa lain di luar penerima bidik misi,” kata Akmar dalam laporannya.

Dalam pembinaan ini, penerima bidikmisi memperoleh materi dari empat nara sumber. Yakni Wakil Rektor III Rosyadi yang menjelaskan tentang tugas dan tanggungjawab penerima bidik misi, Anton Afrizal Chandra, SAg, MSi soal Keagamaan, Khalid Arafah dan Rudwansyah.

Dua pembicara terakhir merupakan pengusaha sukses di Sumatera Barat yang bergerak di usaha Tengkelek (Branding Baju Kaos) dan Sapi Perah. (ind)