Labu Manis Riau Kuasai Pasar Labu hingga Pulau Jawa

Pekanbaru (Nadariau.com) – Berawal dari iseng menanam labu manis atau hannah butternut squash, Petani labu manis asal Riau kuasai pasar di Sumatera hingga pulau Jawa.

Pengembang hannah butternut squash Mandar Putra, menyebutkan bahwa awalnya ia merupakan seorang petani melon. Namun karena ketatnya persaingan melon di Riau, ia memutuskan untuk beralih ke labu manis melalui saran dari temannya seorang petani dari Jawa.

Mandar menuturkan, ia memulai budidaya sayur buah ini sejak tahun 2015 lalu. Hingga kini, Mandar telah mengisi berbagai supermarket yang ada di Riau, wilayah Sumatera, hingga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Dirinya sendiri pernah diminta untuk mengekspor labunya ke beberapa negara di Asia Tenggara seperti Philipina, Singapura, Brunei Darussalam, dan Korea.

Namun, ia belum menyanggupi ekspor karena stok barang yang belum mencukupi dan pasar dalam negeri belum seluruhnya terpenuhi.

Mandar yang juga pemilik Alex Group ini menjelaskan, saat ini yang menjadi kendala dalam budidaya sayur buah labu manis ini karena biji bibitnya yang masih impor dari Belanda dengan harga Rp2.500 per bijinya.

“Harga bibitnya yang masih mahal, apalagi impor dari Belanda, belum lagi biaya lainnya,” ucap Mandar, Sabtu (4/5).

Untuk saat ini, menurut Mandar belum ada penelitian atau produk dari Indonesia yang sebaik kualitas bibit dari Belanda. Ia berharap kedepannya penelitian itu bisa ditemukan di Indonesia sehingga bibit tidak lagi impor dari negara lain.

Mandar kemudian menambahkan, saat ini hannah butternut squash asal Indonesia ini telah berhasil menekan pemasok terbesar selama ini dari negara Australia. Bahkan dengan berani ia menyebutkan bahwa Riau telah unggul dari Australia.

“Dulu pemasok kita dari Australia, sekarang kita sudah bisa menekan itu dan telah unggul dari Australia,” jelas Mandar.

Untuk kualitas, labu manis milik Mandar memiliki tekstur yang lebih lembut, lebih manis, bentuknya yang ramping, dan tidak berserat dibandingkan dengan labu manis biasanya asal Indonesia.

“Bedalah dari labu yang kita lihat biasanya di pasaran, labu ini adanya di supermarket, harga jualnya Rp25.000 per kilo,” tuturnya.

Di lain pihak, salah seorang petani labu manis, Suradi menjelaskan bahwa tidak ada perawatan yang berbeda antara labu manis budidayanya dengan labu manis lainnya.

Lahan labu manis tersebut tersebar di beberapa daerah yaitu Pekanbaru di Jalan Hangtuah Ujung, sikijang Mati di Pelalawan, Indragiri Hulu dan Kampar, serta ada juga beberapa lahan di Kawa.

Namun dari beberapa daerah di pulau Jawa dan Riau, kualitas Riau lebih unggul karena labu itu tergantung cuaca dari daerah tersebut.

“Kita punya lahan di Riau, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, tapi yang paling unggul itu dari Riau. Riau itu awal kita mulai, di Riau juga cuacanya panas jadi bagus untuk perkembangan labunya,” kata Suradi.

Sejauh ini, Suradi bercerita belum pernah mendapatkan bantuan atau perhatian lainnya terhadap petani labu ini. Ia berharap support dari pemerintah hingga labu asal Indonesia khususnya Riau dapat terus berkembang hingga ke Internasional.

“Kalau masalah bantuan, itu nantilah. Kita butuh dukungan terus hingga labu asal Riau ini bisa go Internasional, jadi bisa mengharumkan nama Riau,” tuturnya. (mcr/jal)