Pekanbaru (Nadariau.com) – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) ikut mendorong mewujudkan visi misi Pemerintah Provinsi Riau untuk Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan bathin, di Asia
Tenggara Tahun 2020.
Salah satu bentuk dorongan tersebut yaitu, Umri telah memecahkan Rekor MURI pembuat reflika Tanjak bernama Tebing Runtuh, terbesar di Indonesia. Ukurannya, tinggi 4 meter dan besar berdiameter 6 meter.
Rektor Umri Dr H Mubarak MSi mengatakan, Umri akan berusaha mempertahankan budaya asli budaya melayu. Oleh sebab itu, pengenalan dan penggalian budaya akan terus dilakukan bersama mahasiswa.
“Kampus adalah tempat pembangunan sumber daya manusia. Dari sini kita akan terus memperkenalkan dan mempertahankan nilai nilai keaslian budaya melayu,” kata Mubarak, saat penerimaan penghargaan rekor MURI dari Museum Dunia Indonesia, Ahad (31/03/2019).
Mubarak menjelaskan, sekarang sudah banyak pakaian budaya melayu yang dimodifikasi. Sementara pakaian aslinya tidak ada kancing di pergelangan tangan. Kancing ada hanya di depan dada.
Bentuk dan penempatan kancing baju menunjukkan kewibawaan dan derajat seseorang. Jadi, orang dulu sangat bangga berjalan ketempat ramai jika memakai pakaian adat melayu.
Kemudian, tanjak merupakan tutup kepala. Tanjak juga mencerminkan kewibawaan dan derajat seseorang. Jenis tanjak seorang pemimpin, dengan masyarakat biasa tidak boleh sama.
“Meski di kampus sudah ada motif disain melayu yang sudah dimodifikasi, namun kami tetap mengacu kepada motif asli. Namun pada wisuda Umri petengahan tahun ini, Umri akan menerapkan seluruh dosen, karyawan dan mahasiswa memakai pakaian budaya melayu asli,” ucap Mubarak.
Sementara Gubernur Riau Syamsuar diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Riau Yoserizal mengatakan, bahwa Umri telah membuat terobosan baru yang patut dicontoh oleh kampus lain.
Melalui pekan budaya dan wirausaha ‘Riau Bertanjak’ bisa menjadi potensi ekonomi kreatif bagi mahasiswa. Selain ajang penyaluran bakat mintat, juga menjadi sumber pendapatan.
“Kami selaku Pemerintah Provinsi Riau merasa bangga atas terobosan baru dari Umri. Kami meminta teruslah berkreasi nan inovatif, namun tetap mengacu kepada kaedah adat dan budaya melayu. Supaya tidak berbenturan dengan budaya nenek moyang melayu,” kata Yoserizal.
Deputi Manajer MURI, Awan Rahargo mengatakan, dengan pemecahan MURI Tanjak terbesar di Indonesia, maka museum dunia Indonesia telah mencatat tanjak urutan ke 8.940 penghargaan yang pemecahan MURI di Indonesia.
Replika Tanjak ini merupakan yang terbesar dan sekaligus memiliki makna nilai filosofi budaya melayu. Hal ini sesuai dengan semangat budaya melayu sekarang yang menampilkan Tanjak tutup kepala.
“Museum Dunia Indonesia telah menyaksikan dan mencatat capaian prestasi putra putri anak bangsa yang sekarang dibuat oleh mahasiswa Umri, yaitu replika Tanjak Tebing Runtuh terbesar di Indonesia,” kata Awan, yang kemudian menyerahkan piagam penghargaan MURI kepada Rektor UMRI didampingi jajarannya. (ind)


