Pekanbaru (Nadariau.com) – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, luas panen padi di Provinsi Riau pada periode Januari-September 2018 sebesar 82,8 ribu hektar.
“Dengan memperhitungkan
potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 adalah 93,8 ribu hektar,” kata Kepala BPS Provinsi Riau, Aden Gultom, melalui rilis bulanannya, Kamis (01/11/2018.
Sedangkan produksi padi di Provinsi Riau periode Januari-September 2018 sebesar 334 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
Berdasarkan potensi produksi sampai Desember 2018, maka diperkirakan
total produksi padi tahun 2018 sebesar 365,3 ribu ton GKG.
“Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, maka produksi padi tersebut setara dengan 208,6 ribu ton beras,” ujar Aden.
Aden mengakui ketidak akuratan data produksi padi telah diduga telah terjadi sejak tahun 1997 oleh banyak pihak.
Berdasarkan studi yang
dilakukan oleh BPS bersama Japan International Cooperation Agency (JICA)
pada tahun 1998 telah mengisyaratkan overestimasi luas panen sekitar 17,07 persen.
Begitu pula dengan perhitungan luas lahan baku sawah yang cenderung meningkat – walaupun
fakta di lapangan menunjukkan terjadinya pengalihan fungsi lahan untuk industri, perumahan
atau infrastruktur, meskipun di sisi lain juga ada proses pencetakan sawah.
Walaupun sudah diduga sejak lama, namun upaya untuk memperbaiki metodologi perhitungan produksi padi baru dilakukan pada tahun 2015.
Dimana, BPS telah bekerjasama dengan Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).
KSA merupakan metode perhitungan luas panen, khususnya tanaman padi, dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN.
Penyempurnaan dalam berbagai tahapan perhitungan jumlah produksi beras telah dilakukan secara komprehensif mulai dari perhitungan luas lahan baku sawah hingga perbaikan
perhitungan konversi gabah kering menjadi beras.
“Padahal potensi Riau menjadi penghasil padi sangat besar. Namun hal ini tergantung pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pengembalian fungsi lahan dari perkebunan ke persawahan,” jelas Aden. (ind)


