Mahasiswa Tantang Calon Gubernur Bisa Hilangkan Polisi Tidur

Ketua Hima-Inhu Anggi Destriono

[divide]

Pekanbaru (Nadariau.com) – Mahasiswa yang tergabung kedalam Himpunan Mahasiswa Inhu (Hima-Inhu) menantang Calon Gubernur Riau yang bisa menghilangkan dan menghapuskan polisi tidur atau pita penggaduh (speed trap) di badan jalan.

Bagi calon gubernur yang bisa berjanji bisa menghilangkan polisi tidur di badan jalan, maka mereka sepakat akan mendukung calon gubernur tersebut.

Ketua Hima-Inhu Anggi Destriono mengakui, sebagian orang mungkin menganggap polisi tidur di jalan dipandang sepele. Namun seyogyanya, polisi tidur tersebut sudah banyak menenelan nyawa dan korban kecelakaan.

Kemudian polisi tidur banyak mudaratnya daripada manfaat. Seperti, mobil ambulan, mobil pemadam kebakaran dan pengendara umum sangat kesulitan melewati jalan yang dihuni oleh polisi tidur.

Jika nasib naas, maka pengendara akan mengalami kecelakaan saat melewatinya. Baik kecelakaan tunggal maupun ditabrak oleh kendraan lain.

“Bisa kita perhatikan calon kepala daerah di Riau, mereka hanya mengkampanyekan tentang pembangunan, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Namun kasus polisi tidur ini tidak ada yang berani berjanji untuk menertipkan. Padahal saat berjalan, calon kepala daerah itu sendiri diduga juga menyumpah akibat ada polisi tidur di jalan,” kata Anggi, Rabu (11/04/2018).

Seperti diketahui, di Provinsi Sumatera Barat ada beberapa daerah pelarangan pemasangan polisi tidur di jalan. Sementara larangan ini dipatuhi oleh semua pihak.

Dimana, Wali Nagari (Kepala Desa) daerah tersebut meminta kepada masyarakat untuk tidak memasang polisi tidur di jalan. Sementara polisi tidur yang ada dibongkar oleh perangkat Wali Nagari dan dusun.

Alhasil sejak polisi tidur dibongkar lebih banyak keuntungan bagi daerah. Seperti jalan tidak cepat rusak, pengendara tidak ada lagi mengucapkan sumpah serapah, kecelakaan jauh berkurang dan arus lalu lintas lancar.

“Jadi fungsi kepala daerah sangat besar untuk menertipkan segala sesuatu. Sekali lagi saya sebutkan, jangan dianggap sepele dengan polisi tidur. Karena polisi tidur bisa membunuh diri sendiri, anak, keluarga, karib kerabat dan siapa pun juga,” ujar Anggi.

Salah seorang mahasiswa UIN, Lia yang merupakan korban kecelakaan menegaskan polisi tidur sangat berbahaya. Karena beberapa gigi bagian atasnya patah dan goyang akibat jatuh saat menabrak polisi tidur di Kecamatan Sukajadi Pekanbaru, baru baru ini.

Lia mengaku, meski warnanya sama dengan aspal karena tidak diberi warna, dari jauh polisi tidur itu sudah terlihat.

Menjelang naik, Lia sudah tekan rem sepeda motornya. Namun entah apa yang terjadi, lalu tiba-tiba dia terjatuh dan berlumuran darah di jalan. Kemudian masyarakat membawanya ke rumah sakit.

“Saya sudah hati-hati menaiki polisi tidur jalan itu. Tetapi mungkin tidak pas cara naiknya, lalu sepeda motor saya tergas tinggi dan melompat, lalu saya tersungkur ke aspal,” katanya.

Polisi Tidur Antisipasi Kecelakaan

Diakui, masyarakat dipinggir jalan khawatir dengan ada kecelakaan kendaraan. Kekhawatiran ini akhirnya mendorong warga untuk menghadirkan polisi di jalan sekitar kediaman mereka.

Tujuannya sudah pasti untuk nakut-nakutin pengendara yang melintas biar jalan tidak ngebut karena ada polisi, maksudnya polisi tidur.