PWI Riau Publikasikan Secara Besar-besaran Potensi Dumai

Rombongan Safari Jurnalistik tahun 2017 foto bersama Walikota Dumai Zulkifli AS usai acara ramah tamah, Sabtu (15/04/2017).Ft;Zulmiron/Dumai

Dumai (nadariau.com) – Salah satu agenda rangkaian Hari Pers Nasional dan HUT Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke-71 tahun 2017 adalah Safari Jurnalistik. Kegiatan ini sebagai wujud dari PWI Riau untuk mempublikasikan secara besar-besaran potensi yang ada di kota maupun kabupaten yang menjadi puncak pelaksanaan perayaan HPN.

”Jadi setiap kita melaksanakan kegiatan di berbagai daerah yaitu di Pelalawan, Rokan Hilir (Rohil) dan Bengkalis, Indragiri Hilir (Inhil) dan Kuansing. Itu semua sudah kita laksanakan safari jurnalistik. Karena kita memang ingin memberikan makna, bahwa HPN bukan hanya kegiatan seremonial saja. Tapi juga merupakan momentum bagi kita untuk menumbuhkembangkan segala potensi yang ada di daerah,” papar Wakil Ketua PWI Riau Bidang Advokasi, Satria Utama Batubara saat menyampaikan sambutan pada acara ramah tamah bersama Walikota Dumai Zulkifli AS bersama rombongan Safari Jurnalistik 2017 di aula Balaikota Dumai, Sabtu (15/04/2017).

Karena itulah, sebut Satria, PWI Riau di masa kepemimpinan H Dheni Kurnia sudah menggelar kegiatan HPN di berbagai daerah. Untuk itu, ada daerah harus punya rasa memiliki organisasi itu, tidak hanya sesama insan pers tapi masyarakat. Karena itu, PWI juga milik masyarakat dan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat.

”Karena itu kami melaksanakannya di berbagai kabupaten/kota,” tutur Satria seraya melaporkan yang ikut dalam kegiatan safari jurnalistik tahun 2017 ini sebanyak 47 orang. Dari sisi komposisinya, peserta safari jurnalistik ini sangat lengkap. Ada wartawan media cetak harian, mingguan, online dan televisi.
Bahkan televisi nasional juga ada yang diikutsertakan yakni dari TVOne, MNC Grup dan Trans untuk melihat langsung Kota Dumai memang sudah akrab bagi insan pers. Apalagi Kota Dumai termasuk salah satu kota penting di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau. Namun sebagian belum pernah melihat langsung geliat perkembangan Kota Dumai ini sejak beberapa tahun terakhir yang luar biasa. Dan sebagian lagi hanya mendengar di Kota Dumai ini ada Kawasan Industri Dumai (KID), tapi belum pernah menginjakkan kaki kedalamnya. Bahkan sebagian lagi pernah mendengar sekarang ada ekowisata mangrove di Dumai dan juga belum menginjakkan kakinya di kawasan ini.

”Karena itu melalui kegiatan Safari Jurnalistik 2017 ini, PWI Riau mengajak kawan-kawan media untuk melihat secara langsung,” ujar Satria.

Selain memberikan, kata Satria, bahwa peran pers salah satunya adalah memberikan kontrol sosial lewat tulisan atau pemberitaan yang ditertibkan. Dan lewat tulisan atau pemberitaan yang disajikan tentunya memberikan kritikan yang sifatnya membangun. Kritik yang dapat memberikan pembenahan kedepan nantinya. Selain itu juga, tentu saja sebagai sarana mensosialisasikan potensi yang ada ke seluruh penjuru tanah air bahkan kalau perlu dunia internasional.  Apalagi sekarang sudah ada media online yang memiliki jangkauan yang sangat luas.

”Jadi saya mohon sebagai pimpinan rombongan kali ini, apa yang kita buat tentang berita-berita Dumai kalau bisa dishare sebanyak mungkin ke media sosial. Jadi tidak hanya dibuat di media onlinenya saja, tapi kita buat hastagenya sebanyak-banyaknya tentang Kota Dumai. Hastage Safari Jurnalistik Dumai misalnya. Atau kalau perlu buat hastage slogan Kota Dumai saat ini yakni Makmur Dumai dan Madani. Jadi kalau bisa kita coba menjadikan Dumai ini trending topik di media sosial. Sehingga Kota Dumai menjadi sorotan di nasional. Itu harapan saya sebagai pengurus PWI Riau. Dengan begitu, beritanya nanti gaungnya bisa bergema kemana-mana,” papar Satria seraya mengucapkan terima kasih kepada Walikota Dumai yang dengan tangan terbuka sudah menerima dan menjamu rombongan Safari Jurnalistik sembari bersilaturahim.

”Dan ini menjadi suatu hal yang luar biasa dan menjadi semacam hutang budi kita kepada Pak Walikota Dumai Zulkifli AS untuk sama-sama memberikan dukungan menjadikan Kota Dumai ke arah yang lebih baik,” ujar Satria.

Pada kesempatan yang sama, Walikota Dumai Zulkifli AS menyambut baik kedatangan rombongan Safari Jurnalistik ke Kota Dumai ini. Dan ini menjadi suatu kehormatan bagi Pemerintah Kota (Pemko) Dumai. Karena dalam waktu tak lama lagi, Kota Dumai akan memperingati hari jadinya ke-18, tepatnya pada tanggal 27 April 2017 mendatang.

”Kehadiran rombongan Safari Jurnalistik ke Dumai ini menjadi suatu kehormatan bagi kami. Karena Dumai sebentar lagi akan memperingati jadinya ke-18,” sebut Walikota Dumai yang akrab disapa Zul AS ini.

Zul AS menjelaskan, Dumai ini suatu kota yang dulunya merupakan kota administratif dari tahun 1979 sampai 1999. Jadi 20 tahun kota administratifnya. Setelah reformasi baru menjadi kota. Dulunya, Kota Dumai bahagian dari Kabupaten Bengkalis yang luas wilayahnya secara undang-undang 1.760 kilometer. Tapi setelah diukur ulang menjadi lebih kurang 2 ribu kilometer dengan panjang pantai dari timur ke barat lebih kurang 135 kilometer.

”Jadi nanti kalau sudah ada Jalan Tol Dumai-Pekanbaru, cuma 129 kilometer,” sebut Zul AS seraya menyebutkan, struktur Pemerintahan Kota Dumai terdiri dari 7 kecamatan dengan 33 kelurahan.

”Nanti mungkin juga akan ada pemekaran. Sehingga nanti kami akan melakukan seminar soal pemekaran wilayah ini. Sebab berdasarkan undang-undang, tidak hanya kota dan kelurahan saja yang boleh pemekaran, tapi desa juga bisa dimekarkan. Karena itu, perguruan tinggi kita mintakan untuk melakukan seminar, apa Dumai ini layak tidak untuk dijadikan beberapa desa terutama yang ada di daerah perbatasan seperti Kecamatan Pinang Kampai, Bukit Kapur dan Sungai Sembilan. Sehingga Dumai nantinya bisa lengkap, karena ada lurah dan ada kepala desa,” jelas Zul AS.

Disamping itu, beber Zul AS, saat ini Dumai memiliki 537 RT. Sedangkan RW tidak ada. Dengan struktur pemerintah ini, penduduk Kota Dumai saat ini hampir berjumlah hampir sekitar 300 ribu dengan penduduk yang heterogen.

”Di Dumai ini ada namanya Lembaga Kerukunan Masyarakat Dumai yang terhimpun 16 suku di dalamnya. Dari 16 suku ini, 4 suku yang besar jumlahnya yakni Melayu, Jawa, Batak dan Minang. Sementara yang lainnya sekitar 5 hingga 10 persen. Itu sekilah pintas topografi Kota Dumai,” beber Zul AS.(ron)